Kurang dari 5 Persen Penduduk Indonesia yang Terproteksi

Kurang dari 5 Persen Penduduk Indonesia yang TerproteksiOrang tua di Indonesia belum sepenuhnya memahami pentingnya asuransi jiwa bagi dirinya maupun anak-anaknya. Dari Laporan Hasil Kinerja AAJI Semester Pertama 2014, penduduk Indonesia yang terlindungi dengan asuransi jiwa tidak lebih dari 5 persen dari jumlah penduduk. Selain itu, rasio premi asuransi jiwa terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia hanya sebesar 1,6 persen, padahal diperkirakan pada 2020, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia mencapai 141 juta jiwa.

Hal tersebut disampaikan pada paparan Survei Prepared Parents yang dilakukan oleh Nielsen Indonesia dan Prudential Indonesia di Jakarta, Kamis (27/11/2014).

Dari survei tersebut, ditemukan lima tujuan keuangan yang menjadi prioritas orang tua di Indonesia, yaitu

  • pendidikan anak,
  • berinvestasi,
  • memiliki modal bisnis,
  • dana darurat, dan
  • ibadah haji.

Kemudian, hasil survei menunjukan semakin panjang perencanaan keuangan, kepercayaan diri para orang tua di Indonesia semakin rendah dalam mengetahui berapa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keuangan mereka.

Untuk jangka pendek, 61 persen responden percaya mereka mampu mencapai tujuan keuangan mereka. Namun, untuk jangka panjang, hanya 28 persen responden yang percaya mampu mencapai tujuan keuangan.

“Pendidikan anak masih menjadi prioritas bagi orang tua, tetapi semakin menurun untuk jangka panjang. Untuk perencanaan keuangan jangka pendek (kurang dari 3 tahun), 74 persen responden memprioritaskan pendidikan anak, jangka menengah (3-5 tahun) berkurang menjadi 56 persen, dan untuk perencanaan keuangan jangka panjang (lebih dari 5 tahun), hanya 39 persen responden yang menaruh pendidikan anak sebagai salah satu prioritas dari tujuan keuangan mereka,” ujar Director Financial Service Industry Indonesia Market Nielsen Indonesia Dena Firmayuansyah di Jakarta, Kamis (27/11/2014).

Dari persentase tersebut, Dena mengatakan kebanyakan orang tua lebih percaya pada produk perbankan daripada asuransi untuk berinvestasi di masa depan.

“Untuk jangka pendek, sebanyak 95 persen responden yang memilih menabung di bank dan hanya 9 persen yang memilih asuransi jiwa. Kemudian, untuk jangka panjang, 65 persen responden memilih menabung di bank, sedangkan asuransi jiwa hanya dipilih oleh 28 persen responden,” tuturnya.

asuransi besar akan membanjiri indonesia » Kurang dari 5 Persen Penduduk Indonesia yang Terproteksi
Kurang dari 5 Persen Penduduk Indonesia yang Terproteksi (Ilustrasi)

Dena melanjutkan, orang tua sebenarnya sadar akan risiko yang dapat menghambat tujuan keuangan mereka, yaitu penyakit, kecelakaan, kematian, dan kehilangan pekerjaan. Namun, kata dia, asuransi masih belum menjadi prioritas pertama untuk menjadi andalan di kala risiko-risiko tersebut terjadi.

“Sebanyak 85 persen responden mengatakan akan menambah tabungan, 39 persen menghemat pengeluaran, dan hanya 33 persen yang akan menambah asuransi jiwa serta 22 persen menambah asuransi kesehatan. Mengapa yang memilih asuransi sedikit? Masyarakat masih lebih percaya perbankan dan meskipun tingkat kepercayaan mereka tinggi, tetapi mereka kurang detail dalam menghitung risiko,” katanya.

President Director of Prudential Indonesia Rinaldi Mudahar mengatakan hanya 27 persen responden yang menghitung secara detail dalam merencanakan tabungan dan investasi mereka, sedangkan 70 persen hanya melakukan perhitungan secara kasar berdasarkan pada asumsi.

Rinaldi menambahkan, jumlah individu yang terdaftar sebagai pengguna asuransi sedikit karena pengetahuan masyarakat di Indonesia tentang asuransi sangat minim. Padahal di asuransi, kata dia, unsur tabungan juga ada dan asuransi menuntut pemegang polis untuk disiplin.

“Kalau hanya menabung di bank, bisa terserah mau tabung berapa dan bisa berhenti kapan saja. Itu justru berisiko untuk jangka panjang karena ada pengaruh inflasi, suku bunga, dan nilai mata uang ke depannya,” ujar Rinaldi.

Selain pengetahuan tentang asuransi yang minim, Rinaldi mengatakan masyarakat masih kurang percaya terhadap asuransi, takut klaim tidak dibayar, dan masih menganggap asuransi merupakan produk yang mahal.

“Oleh karena itu, peran agen di sini penting. Cara paling efektif untuk mengedukasi masyarakat dan memasarkan produk asuransi adalah lewat face to face antara agen dan masyarakat. Target kami di tahun depan, kami mencapai 1,5 juta agen yang berlisensi,” cetusnya.

Corporate Marketing and Communication Director of Prudential Indonesia juga mengatakan hal yang serupa. “Namun, kendala yang dihadapi sekarang, agen asuransi yang tersebar di Indonesia masih sedikit karena profesi agen masih dianggap sebelah mata,” ujar Nini.

Nini mengatakan bahwa agen asuransi di Indonesia yang telah diakui secara internasional baru mencapai 763 ribu atau secara rasio hanya 1:327 dengan jumlah penduduk Indonesia, yang artinya 1 agen memiliki tugas untuk mengedukasi 327 orang.

Paparan hasil survei yang dilakukan Nielsen Indonesia dan Prudential Indonesia ini, lanjut Nini, merupakan salah satu bagian dari upaya literasi keuangan dan edukasi terkait asuransi kepada masyarakat. (Metrotvnews.com)

Demikianlah Kurang dari 5 Persen Penduduk Indonesia yang Terproteksi, semoga bermanfaat.